Peserta MasterChef Trauma Usai Ikut Reality Show

Peserta MasterChef Trauma Usai Ikut Reality Show

Pencinta televis Australia, seperti juga di negara lainnya, memiliki kegilaan untuk menonton acara jenis reality show, yang menggabungkan unsur kompetisi dan drama. Tetapi bagi para partisipan, pengalaman ini bisa meninggalkan trauma, seperti yang diungkapkan salah satu peserta MasterChef Australia.

Jules Allen, yang berasal dari Lennox Head di negara bagian New South Wales, adalah salah satu kontestan MasterChef Australia di tahun 2013.

Wanita berusia 39 tahun ini sehari-harinya disibukkan dengan aktivitas sebagai pekerja sosial dan ibu tunggal.

Ia adalah wanita yang memiliki banyak keahlian, tetapi mengaku pengalamannya sebagai kontestan MasterChef telah membuat hidupnya sedikit berantakan.

“Kita diminta untuk habis-habisan, menceritakan semua tentang kehidupan pribadi,” ujarnya kepada acara ABC, Australian Story. “Masalahnya adalah pada akhirnya tidak ada yang membantu kita.”

Allen memiliki kegemaran memasak dan didorong untuk mengikuti audisi MasterChef oleh anak-anaknya. Ada alasan mengapa akhirnya ia mencari ketenaran instan lewat media.

“Saya selalu menunggu untuk memiliki kesempatan untuk menunjukkan pada dunia bahwa saya spesial dan unik dan saat ikut MasterChef saya merasa itulah kesempatannya,” ujar Allen.

Dirancang untuk memproduksi drama dan emosi

Tak ada yang dipaksa untuk mengikuti program reality show. Kebanyakan orang telah menonton acara jenis tersebut dan tahu apa yang diharapkan.
Tapi bagi Allen ia mengaku tak ada yang bisa disiapkan untuk tekanan yang ada.
“Banyak yang menonton dan mereka memahami apa yang terjadi, tapi sebenarnya tidak. Hanya kalau mengalami sendiri, maka tahu apa yang terjadi.”

Sebagai peserta, mereka tidak bisa berhubungan dengan teman-teman atau sanak saudara, belum lagi kekurangan istirahat, dan berada di tempat yang tidak wajar.

Sepertinya acara jenis reality show ini dirancang untuk memproduksi drama dan mengunggah emosi, mungkin acara yang menarik, tapi bisa berakibat tidak baik.

Kebanyakan keluhan dari para kontestan adalah bagaimana aksi mereka yang terekam diedit sedemikian rupa agar bisa sesuai dengan narasi dan karakter tertentu.

Allen mengaku pada awalnya ia kesulitan untuk ini. Saat syuting dimulai pun ia merasa sia-sia untuk mengubah perilaku mereka di depan kamera.

“Tidak peduli berapa banyak adegan yang diambil, kita tidak bisa berbeda dengan siapa diri kita. Saya pikir saya bisa menjadi sangat misterius. Saya tidak tahu siapa saya karena hanya bisa menjadi misterius selama 3,5 detik sampai mulai membuka mulut saya,” uja Allen.

Jadi penghibur yang tak berdaya

Peran para kontestan di program reality show adalah kompleks, menggabungkan unsur-unsur penampilan tapi juga harus menunjukkan emosi yang tulis dalam sebuah lingkungan yang dibuat-buat.
Mungkin anda bisa menemukan sahabat diantara sesama kontestan, tapi tetap saja mereka adalah saingan. Tak hanya itu, apa yang anda katakan dan lakukan semuanya kembali tergantung arahan produser.

Hidup bersama sama 24 orang (untuk) 24 jam sehari sangat tidak nyata. Memasak untuk tiga hakim juga tidak nyata. Ini bukanlah acara tentang sebuah kenyataan atau reality show. Ini semua diatur hanya untuk tujuan menghibur pemirsa,” tegas Allen.

Penghinaan lewat televisi nasional

(Tapi) ini bukan hanya di acara MasterChef saja, dimanapun, seperti acara The Block, atau My Kitchen Rules atau The Biggest Loser, hasil akhirnya adalah sebuah upaya penghinaan diri sendiri di televisi nasional,” ungkap Allen.

“Hal terburuk adalah kita mendaftar untuk itu, mencoba mendamaikan dengan diri sendiri.”

Meski nampak ada kekesalan dan pengalaman pahit, Allen tetap mengaku kalau penampilannya di televisi tersebut telah membuka kesempatan yang lain.

2 responses to “Peserta MasterChef Trauma Usai Ikut Reality Show

  1. Ping-balik: Peserta MasterChef Trauma Usai Ikut Reality Show | Seputar Informasi Dan Berita

  2. Ping-balik: Peserta MasterChef Trauma Usai Ikut Reality Show | Berita – Planet Web Hosting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s