Cocokkah Tank Leopard untuk Indonesia?

 

Jakarta: Dalam debat pada Minggu malam, dua capres, Prabowo Subianto dan Joko Widodo beradu argumen perihal tank Leopard.

Di satu sisi, Jokowi menilai pembelian tank tersebut sia-sia karena tidak cocok dengan kondisi geografis indonesia. Di sisi lain, Prabowo Subianto mengatakan pembelian tank Leopard salah karena beban yang berat tidak sepenuhnya benar. Menurut Prabowo, hal tersebut sudah ada pakar yang mengujinya.

Ini bukanlah pro-kontra pertama mengenai pembelian tank buatan Jerman tersebut. Sebelumnya, keputusan TNI AD untuk membeli 100 unit tank senilai US$280 juta tersebut dikritik beberapa pihak, salah satunya mantan Presiden Ketiga RI BJ Habibie.

Menurutnya, pemakaian tank tersebut tidak efisien di Indonesia. Berat tank yang mencapai 62 ton dinilai akan merusak jalan dan jembatan di Indonesia. Bahkan, Habibie menuding bahwa orang yang membeli tank Leopard sebagai orang bodoh pencari keuntungan. Ia pun mengaku sudah sering kali Habibie terus mendorong Kementerian Pertahanan untuk membatalkan pembelian tank.

Lalu, sebenarnya apa spesifikasi yang dimiliki tank Leopard sehingga Kemenhan kukuh membelinya guna memperkuat sistem persenjataan di Nusantara?

Leopard 2 adalah tank tempur utama (main battle tank) produksi Jerman yang dikembangkan oleh Krauss-Maffei pada awal 1970-an dan mulai digunakan pada 1979. Leopard 2 menggantikan Leopard 1 sebagai tank tempur utama Angkatan Darat Jerman Barat.

Beragam versi telah digunakan oleh Angkatan Darat Jerman dan di 12 negara Eropa lainnya, beberapa dari luar Eropa. Lebih dari 3.480 Leopard 2 telah diproduksi.

Seluruh model tank Leopard dilengkapi dengan sistem pengontrol penembakan digital dan laser penjejak jarak, meriam utama 120 mm dengan kestabilan tinggi, senapan mesin koaksial, serta perlengkapan untuk melihat dan membidik dalam kegelapan.

Leopard 2 adalah kendaraan tempur pertama yang menggunakan alat pembidik low-light level TV system atau LLLTV. Sementara itu, pengindera panas baru diperkenalkan setelah itu. Tank ini memiliki kemampuan untuk bertempur menghadapi sasaran bergerak walaupun melewati medan yang sangat sulit dan tidak rata. Varian yang aktif antara lain 2A4, 2A5, 2A6, dan 2A7.

Saat ini setidaknya ada 140 negara yang menggunakan tank Leopard dengan 65 jenis yang berbeda, di antaranya Australia, Austria, Brazil, Canada, Chili, Denmark, Finlandia, Jerman, Yunani, Indonesia, Italia, Lebanon, Norwegia, Polandia, Portugal, Singapura, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Turki.

Proses pembelian tank ini oleh Indonesia juga tidaklah mudah. Indonesia membeli 100 unit Leopard 2A4 serta Leopard 2RI pembelian baru dari Jerman. Sebelumnya, Belanda tidak menyetujui penjualan tank tersebut ke Indonesia setelah batas waktu yang ditetapkan pemerintah Indonesia akibat protes dari Parlemen Belanda.

Beratnya yang mencapai 62 ton pun diragukan apakah memang sesuai digunakan di Indonesia. Menurut Jokowi dan Habibie, jika ingin membeli alutsista, harus disesuaikan dengan medan dan cuaca di Indonesia.

Menanggapi beragam kritik itu, TNI AD memiliki penjelasan yang serupa dengan Prabowo Subiato. Menurut capres nomor urut 1 itu, pandangan tentang alutsista apakah cocok atau tidak cocok sebaiknya diserahkan kepada para pakarnya.

Mantan perwira TNI Angkatan Darat itu juga menambahkan pembelian tank tersebut telah melalui tahap riset dan penelitian. “Ada anggapan bahwa tank sebesar 60 ton tidak cocok dengan wilayah Indonesia tidak sepenuhnya benar. Saya sependapat kita harus perkuat industri dalam negeri. Tank Leopard sudah keputusan ada keputusan TNI. Pertahanan terbaik adalah kemakmuran dan kesejahteranan Indonesia,” jelasnya dalam debat lalu.

Pendapat serupa juga telah diutarakan pihak TNI AD sebelumnya. Menurut keterangan Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Andika Perkasa, tank Leopard sangat memenuhi syarat penggunaan jalan Kelas I dan Kelas II di Indonesia. Leopard memang memiliki berat mencapai 60 ton, tapi tekanan jejak pada tanah yang dihasilkan tank tersebut hanya sebesar 8,9 ton/M2.

Dengan begitu, jika beban terbagi rata, tank Leopard pada jembatan Kelas A dan Kelas B hanyalah sebesar 2,38 kNm2. Pada umumnya, jembatan di Indonesia beban terbagi rata yang dapat ditahan mencapai 4,46 kN/m2 untuk jembatan dengan lebar 6 meter dan panjang 40 meter.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s